Selasa, 25 Februari 2014

Sayyidina Umar dan Ibu yang masak batu






Sayyidina Umar RA dan Ibu yang memasak batu

Dikisahkan pada suatu malam, Khalifah Sayyidina Umar ra. melakukan kebiasaan rutinnya, iatu berjalan bersama pengawal nya yang bernama Aslam, untuk "memata-matai" nasib rakyatnya, bahkan seringkali sampai ke wilaah pinggirn kota. 

Tiba-tiba di sebuah dusun kecil terpencil, sayup-sayup telinga mereka menangkap suara tangis anak anak kecil. Tak lama kemudian, tangisan berhenti, namun sebentar kedengaran lagi..

Setelah mereka yakin arah suara tangis itu tadi, pelan-pelan mereka pun mendekati sebuah rumah rakyatnya. Mereka melihat seorang ibu, dengan wajah yang muram menghadap ke sebuah periuk yang di atas satu panggangan api, sedang memasak sesuatu. Di sebelah ibu itu ada dua anak kecil yang sedang menangis sambil mememang di baju ibunya. 

Sambil berteriak "Mak lapar mak!" 


Sesekali ibu itu menghadap periuk itu dan mengaduk-aduk sesuatu , mulutnya bicara pelan kepada anaknya, "Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sesaat, sambil menunggu bubur segera masak."

Mendengar hibur sang ibu, anak-anaknya pun dapat tertidur sesaat. Namun, tak lama bangun lagi, dan si anak menangis lagi. Si ibu kembali berlagak, pura-pura mengaduk periuk itu sambil menghibur pilu., 

"Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu, ibu sedang memasakkan makanan untukmu."
Peristiwa itu terjadi berulang kali.

Melihat adegan ganjil ini, Khalifah umar ra.  lantas bertanya dalam hati: apa gerangan yang dimasak itu? Dan kenapa masakan si ibu itu tak masak masak? Sayyidina Umar bersama pengawalnya pun pelan-pelan mendekat, lalu mengetuk pintu pelan di daun pintu sambil mengucapkan salam, 


"Assalamu'alaikum." Si ibu itu pun menjawab, "Wa'alaikumusalam," dan membukakan pintu. Dia pun bertanya dengan penuh curiga di dalam hatinya, "untuk apa tengah malam ada lelaki asing bertamu ke rumahnya?"

Umar lantas bersegera melontarkan pertanyaan tentang apa yang sedang di masak si ibu, dan apa penyebab anak-anaknya tak henti-hentinya menangis pula.


Dengan suara lirih, ibu itu menjawab, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah ‘Umar bin Khaththab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Aku seorang janda. Sejak pagi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi ia kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Oleh kerana pada zaman itu, tidak semua rakyat di Madina yang tahu rupa wajah Amirul Mukminin Sayyidina Umar. Cuma rakyat yang tinggal di berdekatan kota yang kenal, tetapi yang tinggal berjauhan cuma kenal nama pemerintah mereka. Jadi tidak hairan jika ibu itu tidak kenal rupa Sayyidina Umar dan tidak tahu bahawa lelaki asing itu adalah sebenarnya Sayyidina Umar. 

Mendengar penuturan si ibu, Aslam berniat menegur perempuan itu. Namun Khalifah ‘Umar sempat mencegah. 

Dengan air mata berlinang Umar bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Sambil berjalan dari rumah itu, dia menangis dalam hati, memohon ampun pada Ilahi, karena dia melihat dia sudah gagal sebagai pemerintah yang adil. Dan dia takut, Allah akan murka pada Hari Kiamat. 

Sayyidina Umar bergegas ke Baitulmal dan lalu mencedok beberapa gandum dan memasukkan ke dalam sebuah guni. Pengawalnya yang melihat Umar berasa curiga kenapa dia membuat sedekemian. 

Dia pun mengangkat sendiri guni gandum itu. Lalu pengawalnya berkata


"Wahai Amiru Mu'minin, biar aku sajalah yang mengangkat karung ini."


kerana merasa bersalah.Dengan wajah merah padam lalu Sayyidina Umar menjawab, "Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya karena ini lebih ringan bagiku dibanding siksaan Allah di akhirat nanti."


Pengawalnya terdiam atas jawapan Umar. Mereka pun jalan kembali ke rumah ibu tadi.


Akhirnya, sampailah Umar di rumah buruk tadi. Sang Amirul Mu'minin terus masuk dan lalu memasakkan sebagian gandum yang dibawanya, dan menyuruh ibu untuk mengejut anak-anaknya itu. Ibu itu terus mengalir air mata kerana tidak sangka lelaki asing itu sangat baik sekali untuk bantu. Setelah masak, Sayyidina Umar pun mengajak keluarga yang miskin itu untuk makan. 


Sambil melihat mereka makan, Umar duduk tersenyum dalam hatinya. Hatinya berasa sangat lega kerana melihat anak-anak kecil itu kembali gembira.


Sejurus berikutnya, Umar berpesan agar esok harinya anak dan ibu datang ke Baitul Mal menemui Umar untuk mendapatkan makanan dari negara. 


Ibu itu pun mengucapkan terima kasih, lalu berkata "Engkau lebih baik dibanding khalifah Umar," 

-------------------------


Pada keesokan hari itu, datanglah ibu itu ke Baitul Mal. Umar pun menyambut dengan senyum bahagia. Ketika ibu itu melihat wajah Khalifah, dia menyadari bahwa orang yang membantunya semalam adalah Umar sang Amirul Mu'minin, 


Wajah ibu itu seketika pucat pasi dan tubuhnya gemetar, setelah tahu bahwa lelaki dihadapannya adalah Khalifah Umar bin Khatab. Dia kelihatan ketakutan sekali, apalagi telah mengatakan dzalim kepada beliau.

            “Aku mohon maaf!” tangan dan kakinya  gemetar. Selama ini ia belum pernah tahu wajah khalifah Umar hanya mendengar saja dari orang lain. Kini pemimpin besar umat Islam itu ada dihadapannya, betapa hatinya kecut. Ia telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada beliau. Ia sudah siap menerima hukuman yang akan ditimpakan.

            “Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah selama ini. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaannku, bagaimana aku mempertanggungjawabkan dihadapan Allah?. Sudi kiranya Ibu memaafkan aku?” ucap Khalifah dengan rasa penyesalan mendalam.

            Wanita itu terdiam, tidak keluar sepatah katapun. Ia masih belum percaya kalau lelaki gagah itu adalah Khalifah Umar bin Khatab yang sangat ditakuti dan disegani kaum muslimin. Beliau masih sempat datang membawa makanannya sendiri sekedar untuk memenuhi kebutuhan makanan wanita dan anaknya yang kelaparan.***

2 ulasan:

  1. Maa shaa Allah..ana suke skali membaca sirah sahabt...keep going on your writing

    BalasPadam
  2. Maa shaa Allah..ana suke skali membaca sirah sahabt...keep going on your writing

    BalasPadam